Ikan sejerek,bere secupak, madar…

Bagikan tulisan ini ke media sosial!

Ira Diana

 

Hai, perkenalkan, namaku Joy, cowok macho (menurut aku sih) dan hidup apa adanya. Sebenarnya banyak pembuktian akan hal itu. Contohnya Mariana, tetanggaku, setiap hari tak bosan-bosan mengantarkanku kue Tat buatan ibunya. Tat kecil-kecil itu, menjadi alasan untuk berjumpa denganku. Ehm… katanya ibuku sangat suka tat buatan ibunya. Dia bahkan berlama-lama ngobrol dengan ibuku hanya untuk curi pandang padaku. Pembuktian lain bisa dilihat dari si Angel, teman satu kampus dulu. Sejak semester satu hingga tamat, dia bersedia menjadi ajudanku, mengerjakan semua tugas-tugasku. Lain lagi dengan Laili, gadis cantik yang aku kenal di perpustakaan. Si kutu buku ini, getol juga pendekatan denganku. Ia hadir membawakan diktat, meminjamkan buku cerita tanpa aku minta. Belum lagi Bintang, Janet, Suci, Mia dan semuanya yang bahkan aku lupa namanya.

Ya itulah, anugrah ini tak mungkin aku sia-siakan. Bukan salahku jika aku terlihat memanfaatkan mereka semua. Kulit mulus rupawan, hidung bangir dan raut wajah yang tegas menjadi andalanku terhadap mereka. Dunia terasa lebih mudah dijalani kecuali satu hal, yaitu Bapakku! Bapak selalu saja marah, entah apa karena dia sudah tua atau memang ingin aku menjadi lebih berguna. Aku tak bisa membedakannya, karena setiap saat ia selalu saja marah.

Bicara soal bapak yang suka marah-marah, beliau adalah lelaki yang berasal dari kota Padang. Tentu pekerjaannya berdagang, dan hebatnya selalu pandai menghitung uang. Ia selalu marah karena, aku terlihat begitu santai dan beranggapan aku tak mempunyai cita-cita dan semangat hidup.

“Tujuan hidup itu penting, mau jadi apa kamu! Masih muda saja, kerjaan santai, tak terlihat kamu sibuk kuliah dan mengerjakan ini itu. Apalagi sekarang sudah tamat, tak terlihat akan mau ke mana dan kerja apa. Disuruh bantuin di toko, huh bangun saja kesiangan!” ocehan bapak suatu hari, yang aku rasa seperti kaset yang berulang tiap hari. Telingaku terasa panas jika mendengar ocehan bapak, dan aku memilih diam. Eits… tapi tunggu dulu, aku punya dewi penolong yaitu ibuku.

Bicara soal ibu. Ibu adalah wanita asal Bengkulu. Ibu adalah ibu rumah tangga yang sangat perhatian akan anak-anaknya. Ibu juga hidup apa adanya, tak banyak tuntutan apa-apa. Walau tetangga beli ini-itu, ibuku selalu biasa saja. Cukup sandang, pangan dan papan jadilah! Itu prinsipnya. Kalau kata pepatah Bengkulu “Ikan sejerek, bere secupak, madar…” Prinsip inilah yang membedakan Bapak dan Ibuku. Ibu selalu membelaku dengan segala daya upayanya yang akhirnya membuat bapak mengalah. Tapi ini terus berulang, beberapa hari belakangan, bapak terlihat mengarahkanku untuk menentukan sikap setelah tamat kuliah ini.

“Kalau tidak bisa berkembang di Bengkulu, kamu merantau saja. Seusia kamu dulu, bapak sudah merantau, dengan merantau kau akan menjadi manusia berguna dan mandiri. Apalagi sudah punya ijazah sarjana. Jadi laki-laki jangan penakut!” bapak begitu berapi-api menjelaskan kepadaku. Andai aku tak paham sikapnya, mungkin aku sudah beranggapan dia mau mengusirku.

“Pak, di sini juga bisa cari kerja, tak perlu merantau segala” timpal ibu.

“Nah, ini nih yang meracuni anakmu! Disini hanya bisa menjadi pegawai negeri sipil, dan itupun harus nyogok bu, sudah banyak contoh. Jadi, modal bagi orang seperti kita ini ya hanya kemandirian dan kerja keras. Tak perlu jadi PNS kalau jalan menuju kesitu begitu berkerikil. Jadi kerja apa saja, asal halal” lanjut bapak.

Aku hanya diam, sembari memperhatikan raut muka bapak yang sudah terlihat tua.

“Kita bukan orang Padang yang biasa merantau, belum banyak yang merantau anak-anak di Bengkulu ini, pak” ibu menimpali dan memberi argumen kepada bapak.

“Tapi Joy berdarah Padang bu! Bukan hanya Bengkulu saja!” bapak bersih keras akan pendapatnya.

“Mau merantau kemana? Bekalnya apa? Tinggal di mana? Semua perlu dipikirkan pak!” jawab ibu.

“Dia harus membuat planning sendiri….” suara bapak samar terdengar, aku beranjak pergi ketika perang sengit antara bapak dan ibu terjadi. Ini adalah langkah baik, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit di hatiku ketika melihat orang tuaku begitu memikirkan masa depan anaknya.

Kupacu sepeda motor butut yang ada di garasi. Entah angin mana yang akan  membawaku kemana, akupun tak tahu. Terpaan angin begitu sejuk terasa di muka. Begitu indah Bengkulu ini kalau harus aku tinggalkan. Kota yang tak banyak polusi, tak banyak kriminalitas dan tak banyak huru-hara seperti kota-kota lainnya. Di sini begitu tenang!

Tanpa disadari, aku telah berada di tepi Pantai Panjang. Motor kuparkir di pinggir pantai. Ombak sesekali menyapaku di pinggir, seolah tak henti-henti mengingatkanku “pikir baik-baik masa depanmu”.

Jauh pikiranku melayang akan nasehat bapak dan juga masa depanku. Beberapa waktu terakhir setelah selesai kuliah, aku hanya santai di rumah. Karena memang belum ada tes atau lowongan yang aku ketahui. “Akankah aku  merantau?” Hal ini terdengar sangat lucu, mau kemana aku merantau pun tak jelas, akan bagaimana hidupku dirantau orang juga tak terpikirkan. Aku hanya bisa mengandalkan ibu untuk segala kebutuhanku. Aku hanya bisa meminta uang pada bapak, untuk semua pengeluaranku. “Akankah aku merantau?…” pertanyaan ini kemudian memenuhi otak dan pikiranku. Bergantian bagai ketikan tiap baris ke baris dengan pertanyaan yang sama.

“Bang, beli udang goreng bang?” terdengar suara anak kecil menanyaiku. Tepukan ringannya pada bahu sedikit mengagetkanku. Baris ke baris lamunanku buyar…

“Ehmm… sedang tak nafsu makan dek” jawabku seadanyanya.

“Ayolah bang, ini renyah, tanpa pengawet dan bapak dan ibuku sendiri yang mengelola udang-udang ini, cobalah, abang tak kan menyesal” rayu anak itu, seakan kepiawaiannya berdagang begitu kentara. Aku memperhatikannya. Dandanannya cukup rapi dibandingkan dengan anak pantai lainnya yang biasa berdagang. Sendal yang digunakan juga bersih. Wajahnya tak terpanggang matahari atau panasnya udara pantai. Ia membuka bungkus tampa yang ditutupi plastik agar tak berdebu. Udang goreng itu berjejer rapi di atas tampa dan ia menggunakan sarung tangan plastik untuk memegang udang-udang goreng itu. Kesan bersih yang kutangkap dari pekerjaan anak ini. Seketika penasaran menyelinap di benakku.

“Namamu siapa?”

“Ahmad, bang”jawabnya singkat, senyumnya tak lepas, seakan tak lelah ia berjalan dari ujung ke ujung menjajakan dagangannya.

“Bolehlah, abang beli, berapa satunya?” tanyaku

“Hanya lima ribu bang” kemudian ia memperlihatkan tampanya, isyarat memintaku memilih yang mana. Aku memilih asal saja, kemudian aku mulai mengunyah, sengaja uang belum kuberikan. Si Ahmad hanya diam dan menungguku dengan sabar, dia memilih duduk di akar kayu yang besar tak seberapa jauh dari motorku. Aku menghampirinya, karena duduk sendirian begitu menyiksaku.

“Ini buatan bapak dan ibumu? Gurih” komentarku

“Iya terima kasih bang, ini buatan ayah dan ibu angkatku” Ahmad menjelaskan singkat. Tapi penjelasannya begitu sederhana dan membuatku terpana. Walau aku bukan seorang psikolog, tapi aku paham betul, anak model dia tahu berterima kasih dan sangat sopan. Ia mengucapkan “terima kasih” dengan sopan dan semua itu terasa sejuk dan membuatku bertambah penasaran.

“Lah… orang tua kandungmu dimana?” tanyaku menyelidiki. Kuambil satu gorengan udang lagi, agar obrolan kami bisa lebih panjang. Udang ini, kres kres terasa empuk di mulut, rasanya juga pas dan sesuai dengan seleraku. Kuperhatikan anak itu tertunduk, mungkin mengenang atau mengingat serpihan kejadian dalam hidupnya.

“Sudah meninggal?”tanyaku lagi, tanpa maksud membuat anak kecil itu bersedih.

Aku dikagetkannya kembali, ketika dari gerakan tertunduknya yang aku asumsikan dia bersedih, ia kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum hangat padaku, kemudian berkata “Iya bang”. Deg, senyumnya membuatku luluh, tak berasa… anak seusia itu, yang aku perkirakan berusia 9 atau 10 tahun, begitu tegarnya. Dari tindak tanduk dan ucapannya membuat aku seperti di bom-bom, kaget dan kaget…

Aku mengambil untuk ketiga kalinya udang goreng milik Ahmad. Ahmad tersenyum dan membuka kembali tampanya dan setelah aku ambil, sesegera ia tutup kembali, seakan takut dihinggapi lalat atau debu. Aku mengunyah perlahan, pandanganku jauh ke depan, melihat deburan ombak di “Pantai Panjang” ini. Pasirnya yang putih, sungguh bak mutiara yang bersinar diterpa sinar matahari. Udara yang panas tak terasa, karena angin bertiup kencang membuat suasana tetap sejuk. Apalagi kami yang sedang duduk di bawah pohon cemara besar, begitu rindang, berjejer dengan rapi, sehingga pantai ini terlihat penuh pesona.

“Bapak dan ibu kandungku meninggal karena kecelakaan bang, kecelakaan motor, sudah lama sih sekitar 3 tahun lalu. Sejak itu aku tinggal dengan bapak dan ibuku sekarang. Mereka aku kenal karena kami bertetangga. Sama-sama orang susah bang…” Ahmad menjelaskan seakan tahu keingintahuanku.

“Mereka mau membesarkan kamu? Emang anaknya tidak ada? Baik sekali”

“Anaknya ada kok, malahan ada tiga” Ahmad tersenyum, kemudian melanjutkan penjelasannya. “Tapi aku cukup tahu diri dan telah tertempa dengan baik oleh bapak dan ibuku dulu, sehingga aku tak perlu beradaptasi begitu besar dengan keluarga baruku. Setiap apa yang bisa aku kerjakan, aku kerjakan, semua kukerjakan dengan ikhlas. Ini bagian dari nasibku, jika aku tak baik-baik dan berusaha sekarang, mungkin tak kan ada orang yang akan memperhatikan dan membesarkanku bang” Ahmad tertunduk, dan aku tahu sebenarnya hatinya perih, tapi ia berusaha untuk tegar akan hidupnya. Iseng aku bertanya,

“Kamu aslinya orang mana? Bengkulu juga atau pendatang?

“Bengkulu, bapak dan ibu orang Bengkulu semua bang, emang kenapa bang?

“Ah… tidak apa-apa. Ehmm biasanya orang Bengkulu pake prinsip bere secupak, ikan sejerek, madar… tidak semangat seperti kamu, haha” aku tertawa mengingat slogan itu, dan aku jadi ingat bapak dan ibu di rumah.

“Ah, tergantung kita bang memaknainya. Bisa artinya malas, bisa juga artinya…” Ahmad diam, ia berusaha mencari padanan kata yang tepat selain malas.

“Bisa saja artinya sederhana atau hidup apa adanya, tak banyak neko-neko begitu bang” lagi-lagi Ahmad membuatku terkesima, akan ucapannya. Aku tersenyum dan aku sadar aku harus memberikan biaya udang yang telah aku makan, dan membiarkan anak ini pergi untuk menjajakan makanannya ke orang lain. Lagian aku tak mungkin makan ini terus, karena uang di dompetku Cuma dua puluh ribu.

Setelah membayar, Ahmad pergi meninggalkanku. Aku memperhatikan punggungnya dan entah kenapa aku terinspirasi akan sikap dan caranya. Anak sekecil itu…

Tiba di rumah, aku tak mendengar lagi bapak dan ibu berargumen, perang pendapat sepertinya dihentikan untuk sementara akan tetapi akan berlanjut di hari-hari berikutnya. Ibu telah sibuk di dapur, sedangkan bapak masih di toko. Aku memilih untuk berbaring di kamar.

Esoknya…

“Mana si Joy?” tanya bapak kepada ibu.

“Entah, mungkin di kamarnya, kan jam segini biasanya masih tidur” jawab ibu.

“Pemalas! Suruh dia bangun bu! sejak tamat kuliah bukannya cari kerja eh istirahat, tidur dan keluyuran tak tentu”

“Iya” ibu bergegas ke kamarku dan…

“Pak… pak sini…” teriak ibu

“Ada apa?” tanya bapak

“Ini pak, si Joy, tidak ada di kamarnya… mungkin karena bapak marah kemarin, dia minggat pak, aduh… mau dicari kemana, anak laki-laki satu-satunya tidak tahu dimana…” ibu tampak gusar dari biasanya.

“Tenang bu, dia itu laki-laki, kalaupun pergi pasti dia akan kembali lagi, mana tahan dia di negeri orang, sudahlah! Jangan menyalahkan siapa-siapa! Dia sendiri yang menentukan pilihannya”

“Kalau sampai kenapa-kenapa, bapaklah yang salah. Bapak telalu keras”

“Bu…” bapak mencoba menenangkan ibu.

“Santai bukan berarti malas pak, hanya Joy itu perlu bimbingan, nanti dia juga cari kerja, jangan bapak paksakan cara berpikir bapak dengan cara berpikir anak zaman sekarang pak!”

“Tapi bu, bapak melakukan itu untuk Joy juga…”

“Bapak terlalu memaksa! Lihat kejadiannya begini…”

Bapak diam tak banyak bicara.

Ibu tetap saja meraung tak tentu, andai tembok bisa bicara, mungkin sudah bilang “Stop”. Setelah ibu tenang sedikit, bapak bergegas datang ke toko, karena hari ini sudah terlambat dari jadwal biasanya. Bapak tak sekalipun terlambat dari jadwal, karena ia takut pelanggan jadi pergi ke toko lain.

Kaget bukan kepalang, toko sudah terbuka, dan beberapa pelanggan bapak sudah hilir mudik masuk ke dalam toko. Bapak mempercepat langkahnya, semakin terlihat banyak yang masuk ke toko, bapak dari jauh tampak lebih panik. Langkahnya bukan lagi kategori cepat tetapi sudah berlari. Napasnya terengah-engah ketika tiba di depan pintu toko. Mataku dan mata bapak bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Aku tak dapat membayangkan, apa yang bapak rasakan sekarang. Karena waktuku tak cukup untuk memikirkannya. Begitu banyak orang yang datang pagi ini. Pagi tadi aku hanya punya waktu setengah jam untuk menghapal beberapa barang prioritas yang sering laku dijual di toko bapak, selebihnya aku melihat contekan. Aku baru sadar bahwa pekerjaan ini sungguhlah berat, bapak melayani pembeli dari pagi hingga petang. Makan dan memejamkan mata semua dilakukan di toko. Tak sekalipun aku menggantikannya.

Bapak tanpa aba-aba mengambil posisi membantuku. Aku lihat sekilas bapak tampak canggung dengan keberadaanku. Tapi aku tahu, bapak senang pagi ini. kesenangan yang mungkin tak pernah ia bayangkan. Akupun demikian, merasa senang daripada hanya memiliki wajah ganteng tapi tak dapat membantu orang lain.

Ahmad kecil mengajariku tentang menghargai orang tua. Ahmad kecil memotivasiku untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Perasaan bahagia hinggap dan menjalar dalam raga, tak sekalipun aku merasa begitu berarti hidup di dunia ini. Tadi malam, aku merenung banyak, memikirkan banyak kemungkinan yang harus aku capai, perbedaan pandangan bapak dan ibu, juga makna ikan sejerek, bere secupak, madar… Ya aku sadar, aku besar di kota ini, lahir dan menghabiskan banyak waktuku di sini, aku anak satu-satunya di keluarga dan aku ingin mengabdi di sini dan bekerja di sini, bukan berarti aku penakut dan tak berani keluar seperti kata bapak. Tapi aku ingin hidup apa adanya, dengan berusaha dan tidak kemana-mana. Bapak dan ibu sudah tua, tak ada yang akan menjaga mereka, jika harus bekerja, aku akan berusaha disini saja.

“Ibumu panik, kamu tak ada di kamar pagi-pagi sekali, telponlah dia, mungkin dia masih menangis tadi” bapak memulai percakapan pagi itu, ketika beberapa pelanggan toko tak banyak lagi yang datang.

Aku bergegas ke kamar belakang untuk menelpon ibu.

“Kemana saja kamu Joy, segera pulanglah nak, tak usah dipikirkan bapakmu itu” tanpa babibu lagi ibu sudah langsung instruksi pulang.

“Tapi bu, Joy sekarang lagi…”

“Sudah, pokoknya kamu pulang, dan tak usah dengarkan kata bapakmu yang lalu itu. Itu tuh tentang merantau segala itu”

“Joy sekarang…”

“Sudahlah nak, kita hidup itu tak perlu dibuat susah. Memang pandangan orang di kota ini terlihat sempit bagi sebagian orang, tapi itu karena mereka tak kenal kita. Kita bisa berusaha tanpa harus bekerja di kota dan negeri lain” ibu terus saja membujuk dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

“Iya bu…” belum lagi aku sempat menjelaskan, ibu sudah menimpali…

Ikan sejerek, bere secupak, madar… bukan artinya tidur dan bermalas-malasan, itu artinya kita sudah bersyukur dan berusaha sesuai dengan yang kita miliki, itu saja nak, jadi… sekarang pulanglah ya, pulang ya nak, tak enak tinggal di tempat lain. Sekarang kamu dimana? Biar bapak jemput kamu ya…” ibu membujukku seperti membujuk anak kecil seperti Ahmad. Tapi aku harus berpikiran di atas Ahmad tentunya.

“Tak usah bu, bapak sudah bersama Joy sekarang, kami di toko” jawabku singkat.

“Loh? Jadi kamu pergi pagi-pagi untuk bantu bapak di toko ya? Aduh Joy…Joy”

Tak terbayangkan olehku bagaimana raut wajah ibu ketika begitu mecemaskanku atau wajahnya di saat aku katakan aku bersama bapak dan aku tahu betul makna pepatah lama itu, aku kan berusaha maksimal semampuku dan menjadi apa adanya di kota tercinta ini.

End

 

 

Ikan sejerek, bere secupak, madar=ikan seikat, beras secupak (6 canting), tidur

Macho = keren

Tat= jenis kue yang terbuat dari tepung dan di dalamnya ada selai nanas, makanan khas Bengkulu

Neko-neko= macam-macam

Tampa = tempat menampi beras yang terbuat dari anyaman, berbentuk bulat

 

Bagikan tulisan ini ke media sosial!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *