Mengenal Lebih Dekat Paskalina Oktavianawati, Penulis Buku Anak, Editor dan Pengatak

Bagikan tulisan ini ke media sosial!

Mengenal Lebih Dekat Paskalina Oktavianawati, Penulis Buku Anak, Editor dan Pengatak

 

Paskalina Oktavianawati atau lebih akrab dengan panggilan Paska ini, saya kenal sejak berkecimpung di group whatsapp Rumah Penulis Indonesia (Rumpi) yang digagas pak Bambang Trim. Kebetulan pula, saya pengurus pusat Penulis Profesional (Penpro) Indonesia, yang kemudian membuat group kecil untuk DKI Jakarta. Di group sanalah saya selaku admin menambahkan nomor-nomor teman di group besar Rumpi yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Group yang dinamai Penpro Jakarta itu, penghuninya mulai saling sapa, berkenalan, dan mengakrabkan diri. Pada waktu yang dijanjikan, saya lupa tepatnya kami mengadakan kopi darat. Pertemuan pertama ini dihadiri oleh Saya, Paska, mas Endik Koeswoyo, Maradanu, Ovy Yanti, pak Syarif Oppusunggu, mas Ahmad Sekhu, bu Suhartini dan Viya Yanti Mala.

Memang, pertemuan Penpro Jakarta hanya kali itu saja, belum ada rencana pertemuan lanjutan karena beberapa hal berkaitan dengan kegiatan asosiasi penulis ini. Tapi, saya dan Paska bertemu untuk kedua kalinya di Cuppa Coffee Kalibata. Paska mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang pengatak, menggunakan aplikasi InDesign.

Paska, sejak awal dan perbincangan melalui chat, saya menilai dia adalah orang yang baik. Ada idealisme dalam dirinya walau tak seutuhnya saklek. Ada hal-hal yang jadi fokus perhatiannya dan juga yang benar-benar tidak ingin dia lakukan. Begitu juga dalam berteman, saya rasa dia cukup pemilih. Bukan artinya memilih-memilih teman, tapi dia “selektif”. Dia punya jati diri dan konsistensi (pembuktian konsistensi ini tidak perlu diungkap di sini, karena dia, saya, dan lima orang teman kami yang lain tahu, serta Tuhan). Saya, terbiasa menilai orang dari tampilan, ucapan dan tindakannya. Entahlah, saya pikir itu adalah modal kita untuk menilai lawan bicara kita.

Paska lahir di Bojonegoro, alumnus Fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini telah melahirkan banyak buku anak. Diantaranya buku Panduan Menjadi Remaja Percaya Diri  yang lolos penilaian Puskurbuk 2010, Seni dan Kerajinan : Batik, Seni dan Kerajinan : Anyaman, Seni dan Kerajinan : Gerabah, Buku Pengayaan Bahasa Indonesia SD/SMP ( Asyiknya Menulis Resensi, Asyiknya Menulis Diary, Asyiknya Bermain Drama)  tahun 2010, sebelas buku terbit di tahun 2011, buku Bersih-bersih Bersama di Sekolah tahun 2012, dua belas buku di tahun 2013 didominasi buku untuk anak TK A dan B, masing-masing tiga buku di tahun 2014 dan 2015, lima buku di tahun 2016 salah satunya e-book TK/PAUD berjudul Bekalku merupakan juara harapan lomba karya cipta Paud 2016 dan dipublikasikan di anggunpaud.kemdikbud.go.id, dan saat ini di tahun 2017 sudah tiga buku salah satunya buku berjudul Jajanan Asli Indonesia (pengayaan SD, tema kuliner) menjadi buku terpilih dalam Sayembara Buku Bacaan Gerakan Literasi Nasional Badan Bahasa 2017.

Saya dan Paska di kegiatan pertemuan penulis gerakan literasi Nasional 2017

 

Paska sangat produktif, setiap tahun rutin menghasilkan buku. Buku yang ditulis umumnya merupakan buku anak-anak. Selain itu, dia masih aktif menjadi editor, tentu hal ini dipengaruhi oleh pengalaman bekerja sebagai editor di PT Galaxy Puspa Mega sejak 2004 sampai dengan 2008, kepala editor devisi penerbit Nobel Edumedia 2008 sampai awal tahun 2014, lalu menjadi kepala divisi penerbit di PT Perca. Walau saat ini dia memutuskan resign  dari tempatnya bekerja dan fokus menulis di rumah serta menjaga sang buah hati Kenan.

Nafas buku yang dihasilkan Paska tentu mendapat pengaruh dari senyum dan aktivitas “anak lanang” Kenan. Ada blog khusus dengan nama www.kenanstories.blogspot.co.id  berisi cerita tentang aktivitas Kenan dan dunia anak-anak. Saya pribadi merasa beruntung bertemu Paska, soalnya banyak ilmu yang didapat dari perempuan satu ini. Terutamanya ilmu “mengatak” yang kemudian menyatukan kami kembali di beberapa kegiatan.

Teringat saat bulan puasa, sebagai muslim saya berpuasa dan dia yang beragama Katolik tak pernah sekalipun menampakan diri makan di hadapan saya. Toleransi dalam beragama tidak mengganggu sendi-sendi keyakinan yang kami miliki. Satu lagi, dia sahabat yang baik, membantu tanpa pamrih. Benar-benar ingin berbagi ilmu dengan sesama, semoga jadi ladang amal bagi Paska. Akhir kata, terima kasih menjadi sahabat saya.

Bagikan tulisan ini ke media sosial!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *